RSS

makalah ISBD

06 Jan

Latar belakang eksistensi kebudayaan

  1. Lingkup dan wawasan kebudayaan

kebudayaan mempunyai lingakup yang cukup luas, meliputi selurh aspek kehidupan manusia, kebudayaan muncul dan berkembang sejak manusia hhidup berkomunitas, Karena manusialah yang menciptakan, memproses dan mengembangkannya. Kebudayyan muncul sebagai proses, karena manusia membutauhkan untuk memenuhi tujuan hidup.

Menurut koentjaningrat(1980) istilah kebudayyan berasal dari bahasa sansekerta “budaya”, bentuk jamak dari “budi atau akal”, maka kebudayaan dikaitkan  yang berkonotasi dengan akal. Sedangkan istilah “budaya” merupakan  rangkain jamak “budi daya”, sehingga diartikan daya dari budi. Berarti berupa cipta, karsa dan rasa. Jadi kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa.

Berdasarkan beberapa istilah yang berkaitan dengan budaya atau kebudayaan seperti; culture(adab,kesopanan,pemeliharaan), custom (adat, kebiasaan), civilization (peradaban), cultivate(mengolah, mengusahakan) dan cultural(kebudayaan)

Mengakar pada kosakata di atas, dikutip beberapa wawasan kebudayaan dari pendapat para ahli   misalnya; taylor (dalam munandar, 1998 dan machfud,1998)mengungkap, “kebudayaan adalah keseluruhan pengetahan yang kompleks berupa; kepercayaan, seni, moral, hokum, adat, kebiasaan dan segala kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh sebagai anggota masyarakat.

Mencermati wawasan tersebut di klarifikasi makna dan kebudayaan, menurut taylor kebudayaan memuat beberapa aspek kebutuhan berupa aturan, kebiasaan dan naluri makhluk pribadi, serba kompleks mencakup; kepercayaan berkaitan dengan hal bersifat gaib (religi/agama), adatistiadat, hokum untuk bertingkah laku.

Manusia memiliki nalu seni untuk mengpresikan kebebasannya merasa senang, nyaman dan indah, sertakebiasaan untuk bertingkah laku kesemuanya dipeoleh melalui proses belajar.

Demikian juga kluckhohm merrangkum pengertian “kebudayaan sebagai keseluruhan cara hidup yang diproleh dan kelompoknya”. Pemahaman lebih praktis dikemkakan oleh joseph ilers di sebutkan”kebudayaan sebagai desain pola hidup dijadikan acuan dan perencanaan yang diadaptasikan dalam kehidupan”.

Mencermati istilah-istilah  kebudayaan di atas, di simulkan bahwa kebudayaan  adalah seperangkap bola hidup untuk menhatur berbagaiaspek kehidupan individu dan masyarakat dalam menata kehidupan maupun di proyeksikan jangkaunnya jauh kedepan.

  1. Kerangka kebudayaan
    1. Unsur-unsur kebudayaan

Luasnya buwawasan kebudayaan, sehiingga unsure-unsurnya meliputi seluruh kawasan di permukaan bumi. Baik yang masih primitive, kecil maupun yang kompleks (modern) dengan linkage (jaringan saling terkait) yang luas. Berkat hasil kerja keras para ahli antrpologi mengepresikan banyak konsep-konsep kebudayaan termask b. Malinowski yang merumuskan tujuh unsure kebudayaan yaitu:

  1. System aneka ragam bahasa
  2. System tenologi dari yang sederhana ke canggih
  3. Organisasi social
  4. System pengetahuan
  5. System mata pencaharian
  6. System religi(kepercayaan keagamaan)
  7. System kesenian

Sejumlah unsur-unsur kebudayaan yang dikatakan di atas di buat suatu skema bagan berupa lingkaran berlapis tiga. Bagan tersebut mengambarkan  bahwa keberadaan kebudayaan yang diciptakan manusia bersifat dinamis(bergerak terus menju suatu perubahan dan perkembangan). Kerangka analisisnya adalah; lingkaran yang paling dalam menggambarkan sebagai inti kebudayaan bersifat abstrak (meliputi ide-ide, konsep-konsep dan gagasan-gagasan). Lapisan kedua menarasikan sebagai system social berupa hubungan social yang di sebut system social kemasyarakatan. Sifatnya dapat diamati sebagai  perilaku interaksi terhadap sesamanya. Lingkaran ketiga merupakan kebudayaan fisik(berupa materi) dan kalau di tafsirkan ke dalam pemaknaannya hasil karya manusia melalui hasil rekayasa teknologinya ( seperti bangunan, perkakas,computer, kapal terbang)

  1. Wujud kebudayaan

Setelah diformulasi dan di analisis dari unsure-unsur kebudayaan yang di kontruksi secara sederhana dalam bagan lingkaran, maka wujud kebudayaan secara berurut dapat di ilustrasikan ke dalam  tiga lapidan lingkaran mulai dari paling dalam (inti), lingkaran kedua sampai pada lingkaran terluar yang uraiannya sebagai berikut:

  1. System budaya bersifat abstrak berupa kompeleksitas; idiologi, gagasan, konsep, ide-ide sebagai hasil pikiran manusia. Wujud ini di sebut system budaya abstrak, karena tidak dapat dilihat ole mata. Di istiahkan sebagai system budaya, karena gagasa pikiran tersebut tidak terlepas sebagai kepingan aspeknya, tetapi menyatu dan saling berkaitan sebagai system berupa satu jaringan mata rantai (linkage system), sehingga menjadi satu system gagasan dan pikiran mapan dan kontinyu.
  2. Wujud berupa system social, meriupakan kompeksitas berupa aktifitas yang saling bersosialisasi dan berakulturasi, karena aktifitas manusia, sehingga konfigurasinya dapat di observasi. Sistem social ini tidak dapat dipisahkan dari system budaya, karena wujud ini terlaksana berkat muaran aliran dari hasil system budaya berupa hasil pikiran dan gagasan, sehingga manusia beraktifitas, baik secara individu maupun komunal . pola-pola aktifitas tersebut ditentukan dan ditata oleh gagasan danide-ide yang ada di dalam otak manusia.
  3. Wujud kebudayaan berupa materi, manusia beraktifitas untuk menciptakan hasil karyanya berupa materi tidak terlepas dari aktifitasnya menggunakan aktifitasnya sebagai hasil karyanya sendiri, dimanfaatkan untuk mengetahui kebutuhannya, baik peralatan yang masih sederhana maupun yang berteknologi canggih. Hasil karya manusia yang di peroleh melalui bantuan sendiridengan tujuan  untuk memenuhi berbagai kebutuhan primer maupun sekundernya berupa benda di sebut kebudayaan fisik.
  4. System budaya

System budaya merupakan wuud kebudayaan yang bersifat abstrak. Cultural system ini,merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang di pakai hidup dalam masyarakat. Gagasan-gagasan tersebut merupakan satu kesatuan dari rangkaian yang lainnya yang suda mapan yang menjadi prinsip hidup komunitas yang mendukungnya, sehingga disebut system budaya. Oleh karena itu,system budaya merupakan bagian dari kebudayaan , karena terdiri pula atas adat-istiadat, norma-norma sebagai system nilai budaya, kesemuanya dapat membentuk pranata-pranata social di dalam masyarakat bersangkutan.

Fungsi system budaya untuk menata tingkah laku manusia. Proses belajar dari system budaya di lakuakan melalui system pembudayaan (institution atau pelembagaan). Dalam proses pelembagaan seseorang belajar dan mengadakan penyesuaian terhadap segala system norma di mulai dari aspek yang kecil sampai kepada aspek totalitasnya untuk kemapaan.

  1. Metodologi Penelitian Budaya

Untuk meneliti tentang budaya komunitas tertentu sejak dulu sudah banyak cara yang digunakan orang pada awal diperkenalkannya salah satu objek penelitian budaya yang disebut etnografi yang didiskripsikan sebagai kebudayaan pada masyarakat primitive yang di kerjakan para antropolog Eropa dan Amerika Utara.

Dalam meneliti kebudayaan masyarakat sejak dulu sampai berkembang dengan menggunakan cara-cara secara ilmiah, makla berlangsunglah penelitian budaya dan menemukan berbaai karakteristik budaya pada saat itu. Adapun cara-cara yang di tempuh antara lain;

  1. Metode eksploratif. Metode ini pada mulanya dilakukan sambil lalu, karena munculnya etnografi hanya di lakukan oleh para missionaries, pedagang dan penjelajah yang memunculkan laporan kebudayaan asing yang yang aneh-aneh. Hasil temuannya diperoleh sesuai dengan  apa yang dilihat dan yang didengar tanpa menggunakan metode observasi yang cermat. Sehingga hasil temuannya itu dianggap sebagai hasil temuan yang  amatiran atau tidak professional(amen on the spot)
  2. Metode verivikasi. Episode yang kedua oleh frans boas bersama mahasiswanya melakukan kegiatan penelitiannya secara berencana dengan menggunakan pendekatan verivikasi yang sudah di bekali teori untuk di ujikebenarannya. Kegiatan penemuan budaya seperti ini sudah di anggap suatu kemajuan, karena para peneliti sudah menggunakan teknik observasi di lapangan. Namun belum tinggal dilapangan dengan waktu yang cukup lama bersama komunitas yang di telitinya, sehingga tidak mempelajari bahasa masyarakat setempat yang di telitinya. Tetapidalam kegiatannya sudah dapat menguji teorii mereka pergunakan sebagai acuan dalam penelitiannya.
  3. Metode gounded research. Model penelitian ini dilakukan dimana peneliti tidak menggunakan teori sebagai acuan untuk mengumpulkan data dan analisis data. Seorang peneliti tinggal di lokasi bersama komunitas yang menjadi obyek studinya. Mereka beradaptasi dengan masyarakat, belajar bahasa setempat dan adat-istiadat mereka.

Untukmengumpulkan data teknik andalannya partisifatori, observasi dan wawancara mendalam. Peneliti mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan merevisi data yang tidak digunakan dan yang di perlukan tetap dikembangkan. Dalam analisis datanya akan mengahasilkan teori. Jadi metode penelitian grounded research  adalah bertolak dari data, data yang brkumpul juga di olah/analisis dan hasil analisis data secara kualitatif menciptakan teori baru.

Penelitian partisispatori dan observasi di anggap paling berjasa dalam penelitian kebudayaan adalah Malinowski. Dalam hal ini Malinowski  yang dipandang sebagai avant garde(pelopor) atau di anggap sebagai pioneer fieldwork antropologi modern dengan melakukan partisipasi observasi dan juga sebagai penemu sntropologi social modern.

  1. Budaya Barat, Timur dan Kebudayaan Nasional

Terjadinya segmentasi disharmonis antara budaya barat dan timur di sebabkan paradox berpikir dan persepsi antara keduanya yang saling berpersepsi dari segi negatif dalam sikap streotipe dan prasangaka satu sama  lain , menebabkan pola piker dan persepsei tidak akan teraktualisasi.

Konsep paradoksal yang timbul dalam pikiran barat tentang karakteristik budaya mencirikan budaya barat bersifat; materialism, nasionalisme, dan sekularisme. Sedangkan masyarakat timur diidentifikasi sebagai masyarakat  yang berkarakter budaya;kemiskina,kebodohan, statisme, fatalisme dan kontemplasi. Akibatnya kedua pandangan tersebut selalu bertolak belakang, menebabkan timbulnya berbagai konflik sahadah nyata dan  laten.

Untuk membuktikan bahwa apakah terjaafi benturan-benturan pemikran budaya antara baratdan timu untuk perlu ditelusuri.

  1. Karakteristik budaya barat

Pandangan barat dalam menilai dunia sahadah cenderung bersifat obyektif, sehingga pola pikirannya menghasilkan sains dan teknologi. Filsafat barat telah di manifestasikan dalam konstalasi dan tataran rasio. Olehnya itu pengetahuannya mempunyai landasan filosofis yang bersifat empiris kuat, nilai-nilai spiritual dan agama dikesampikan.

Dalam proses perkembangkannya sampai sekarang dunia barat unggul dalam menguasai dunia materi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologinya. Sebaliknya pandangan filsafat tradisional dan agama kecendrungan mengalami setback(kemunduran)

Masyarakat barat menurut (Marilyn dan Richard, 1987) dalam acara berpikirnya cenderung pada kemajuan materi dan hidup duniawi, sehingga lebih relevan untuk memeknai kehidupan didunia saja. Barat idup dalam alam ilmiah dan tekns, maka pemahaman falsafah tradisional dan agama semakin jauh dari makna kehidupannya, karena di anggap tidak terkait dengan kehidupan nyata.

Agama dipandang sebagai ide-ide, konsep-konsep yang sifatnya abstrak, sehingga orang barat barsifat rasional dan politifisme. Semua yang tidak bersifat rasional di serahkan kepada sastrawan sebagai imajinasi hidup. Oleh karena itu ada tiga hal yang mendasari nilai kehidupan barat yaitu; martabat manusia, kebebasan dan teknologi.

Menurut pemikiran barat manusia adalah segalanya, karena mampu menyempurnakan hidupnya sendiri denga syarat bertolak  pada rasio, intelek dan pengalaman(Dorothy L.Max, 1983). Falsafal pemikiran sepeti itu menurut sejarahberasal dari falsafah protogoras(480-411 SM). Protogoraslah yang di anggap pertamakali mengembangkan falsafah bahwa manusia adalalh segalanya, sehingga bole dikatakan dia bapak humanism, kemudian berkembang di barat.dalam tradisi humanistic setiap manusia harus memiliki untuk dirinya kebenaran dan kenaikan. Akibatnya gerakan sekularisme seamkin berkembang di berbagai aspek kehidupan termasuk estetika, moral dan agama.

Ajaran ini kemudian dilanjutkan oleh comte dan Feuerbach pada abad ke-18 dengan bersumber dari filsafat positivism. Mereka berpendapat bahwa manusia adalah segalanya, karena martabatnya.

Manusia tidak ternilai oleh materi, sehingga eksistensinya perlu memperoleh respek, bantuan dan hormat. Oleh pandangan berat manusia dinilainya sebagai subyek, disebabkan memiliki kemampuan rasional, kreatif, sehingga kebudayaan barat menghasilkan nilai-nilai dasar seperti; demokrasi, lembaga social dan kesejahteraan ekonomi. Maka manuusia aharus mendapat segalanya yang berwujud kemajuan materi dan kesejahteraan, bukan kebijakan hati nuraninya.

  1. Karakteristik Budaya Timur

Umumnya manusia timur menghayati hidup dan seluruh eksistensinya. Manusia timur berpikir tidak bertujuan untuk menunjang usaha menguasai dunia dan hidup secara teknis. Sebab manusia timur lebih menyukai intuisi daripada akal budinya. Inti kepribadiannya tidak teletak pada inteleknya tetapi di hatinya, sehingga menyatukan akal budinya/intelek dengan intisi, perasaan dan hati nuraninya.

Budaya timur pada prinsipnya bermuara dari ajaran-ajaran agama yang tumbuh dan berkembang didunia timur. Cara berpikir manusia timur di modifikasi oleh falsafah agama seperti hindu dan budha, menyebabkaanusia membuat kebijakan bersifat kontempementasi, tertuju pada tinjauan kebenaran. Berpikir kontemplasi dipandang sebagai puncak untuk perkembangan rohaniahnya.

Falsafah budaya timur berusaha mencari keharmonisan dengan alam sekitar bukan uintuk menguasainya, karena falsafah yang beranggapan bahwa mereka adalah bagian dari alam, sehingga tidak berhak untuk merusak alam. Alamlah yang member kehidupan, keteduhan hidup, makanan, bahan untuk seni dan sain.

Mencari ilmu tidak hanya menambah kecerdasan, tetapi mencari kebijaksanaan . dalam menghadapi kenyataan orang timur memdukan pengetahuan intelektualnya dengan intuisi, pemikiran yang konkrit , simbolik dan kebijaksanaan. Menurut (alfian, 1985) ada tiga sikap menghadapi tantangan kebudayaan barat  yaitu:

  1. Sikap reaksi yang sama sekali menolak kebudayaan barat. Sikap ini menganggap bahwa kebudayaan barat hanya melahirkan manusia materialism yang rakus dan kejam dan menganggap kebudayaan timur yang lebih manusiawi.
  2. Sikap reaksi yang berusaha melihat adanya benturan antara kebuadayaan barat dan timur secara kritis. Secara obyektif melihat masing-masing adanya kelemahan antara keduanya . karenanya , perlua ada jarak antara keduanya untuk tidak saling mengotori. Untuk memadukannya perlua ada seleksi yangmana unsure budaya barat yang dapat menunjang kepentingankebudayaan timur. Mana dapat masuk sendi-sendi kehidupan masyarakat dalam konteks budaya nasional.
  3. Reaksi yang menerima secara totalitas kebudayaan barat. Sikap seperti ini menganggap bahwa kebudayaan timur sudah tidak relevan lagi untuk menghadapi tantangan yang berkembang sekarang. Hanya budaya barat yang unggul dan mampu untuk melahirkan manusia yang berkualitas.

3.   Rumusan Tentang Kebudayaan Nasional

Pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia tidak dipisahkan denga kebudayaan. Manusia akan menyadari dirinya jika selalu sadar terhadap pengaruh kebudayaan yang tidak mungkin dapat ditolaknya.

Berdasarkan pertimbangan di atas perl ditelusuri mengenai kebudayaan nasional Indonesia. Penbicaraan kebudayaan nasional dimulai sejak tahun 1936 ketika diselenggarakan polemik kebudayaan antara sultan Takdir Alisyahbana (mewakili Indonesia muda) dengan Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara dan Dr. Sartono (mewakili golongan tua). Polemik itu termuat dalam buku polemik kebudayaan yang diterbitkan oleh balai pustaka tahun 1948. Isinya memuat antara lain;

a.  Keindonesiaan sebenarnya sudah ada sejak dulu seperti seni, kepercayan dan lain-lain, nasional Indonesia pada saat itu beelum ada. Jadi perlu diusahakan oleh bangsa untuk membangun kebudayaan nasional, yaitu bagaimana memperbaharui kebudayaan sehingga sesuia kebangsaan Indonesia. Dasar yang ditempuh adalah perluasan kebudayaan dengan cara memadukan materialisme, intelektualisme dan individualisme barat dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme timur. Aliran pertama ini di sponsori oleh kihajar dewantara cs yang menghendaki perluasan kepada asas barat dan perpaduan antara keduanya. Kebudayaan nasional harus sesuai dengan kepentingan timur seperti kerohanian, perasaan dan gotong royong.

b.  Aliran kedua dipelopori oleh sutan takdir alisyahbana menghendaki penciptaan kebudayaan Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsure barat yang dinamis. Kebudayaan nasional yang baru dengan sendirinya mencerminkan watak dan keprobadian sebelumnya.

Alisyah bana menghendaki semangat barat yang kreatif dalam segala lapangan kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan, semangat menundukkan alam unruk kepentingan manusia.

Pendapat lain yang tidak mengikut sertakan budaya barat adalah pendapat harsya bachtiar, mengatakan kebudayaan nasional dimasyarakat harus sesuai dengan kebudayaan yang baru sama sekali, bersih dari kebudayaan feodalis maupun sukuisme dan etnosentrisme lainnya.

Koenjaningrat berpendapat untuk menciptakan kebudayaan nasional perlu menggabungkan berorientasi ke zaman kejayaan nenek moyang dan keadaan zaman sekarang. Karena kebudayaan perlu memberikan kemampuan pada bangsa Indonesia untuk menghadapi peradaban masa kini. Koentjaningrat mengatakan, kebudayaan nasional berfungsi member indentitas kepada suatu naion merupakan kontinuitas sejarah kerajaan sejarah lampau sampai sekarang. Berdasarkan fungsi kebudayaan manerut koentjaningrat adalah;

  1. suatu system gagasan dan sebagai perlambang member identitas kepada warga Negara Indonesia.
  2. Suatu system gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh semua warga Indonesia yang bhineka itu untuk saling berkomunikasi dan memperkuat solidaritas.

Untuk memurnikan kebudayaan Indonesia sebagai perlambang identitas masyarak harus memenuhi tiga syarat antara lain; 1) merupakan hasil karya bangsa Indonesia, 2)mangandung ciri-ciri khas Indonesia, dan 3) hasil karya bangsa Indonesia yang dinilai tinggi oleh warganya dan menjadi kebanggan semua orang.

  1. Transmisi Dan Transformasi Budaya

1.  transmisi kebudayaan

Transmisi kebudayaan diartikan sebagai proses alih budaya yang diartikan senagai proses alih budaya yang cenderung tidak mengadakan perubahan budaya, melainkan bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda sebagai penerusnya. Secara rinci Koentjaraningrat mengklasifikasikan adanya tiga macam proses transmisi, yaitu;

  1. Internalisasi, adalah proses yang dialami oleh seseorang yang belajar untuk menanam nili-nilai budaya kepada dirinya dalam modus pembentukan kepribadiannya berupa perasaan, hasrat, nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Proses ini disebut peoses pembentukan kepribadian social atau kolektif. Misalnya seseorang anak yang dibesarkan dalam masyarakat tertentu, kepribadianya dibentuk oleh lingkungan masyarakat tersebut dengan melalui berbagai pengalaman budaya yangditerimanya. Dalam komunitas bersangkutan seseorang belajar dan menerima budaya misalnya bagaimana cara berdisiplin, menahan diri dari emosi, menanggapi suatu gejala atau peristiwa dan lain-lain. Kalau seseorang telah matang telah mengadakan penyesuaian dalam masyarakatnya, maka terbentuklah watak generasi muda dilingkungan masyarakat itu. Pembentukan watak seperti ini tidak berbeda dengan watak lingkungan generasi yang membentuknya, karena belajar pada lingkungan budaya yang sama. Inilah yang disebut kepribadian kolektif (social).
  2. Sosialisasi kebudayaan. Sosialisasi diartikan sebagai proses belajar mengenai pola-pola tindakan dan perilaku yang berkaitan dengan individu yang memilikiberbagai ragam kedudukan dan peranan. Dalam proses ini seorang anak akan belajar dan mengetahui sedikit demi sedikit lingkungan sosialnya. Aspek yang dipelajari termasukkedudukan dan peran yang ada didalam grup-grup atau komunitas bersangkutan. Aturan-aturan dan peran-peran yang mana harus digunakan dalam menghadapi suatu dalam lingkungan social yang berbeda. Proses sosialisasi juga turut membentuk kepribadian kolektif seseorang warga masyarakat bersangkutan. Didalam pembentukan kepribadian warga termasuk mempelajari bagaimana seorang warga memahami nilai-nilai sopan santun, dan model-model bertingkah laku dalam masyarakatnya.
  3. Proses enkulturasi budaya. Prosesini dimana anggota masyarakat mempelajari segala macam system norma modal aturan / adat istiadat yang ada didalam masyarakat. Proses enkulturasi adalah mempelajari segala aspek kebudayaan, sehingga disebut proses pembudayaan. Melalui proses enkulturasi ini seseorang belajar dimasyarakatnya, sehingga mereka dapat dinamakan anak masyarakat yang membesarkannya.

Segala macam sikap, kepercayaan, tingkah laku, cara berfikir dan pengetahuan yang diwariskan dari senior kepeda juniornya akan melekat pada dirinya. Baik internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi Nampak jelas semuanya merupoakan alih kebudayaan dari generasi senior kepada juniornya untuk melestarikan kebudayaannya secara berkesinambungan.

2. Transfomasi kebudayaan

Transfomasi kebudayaan (alih budaya) berkaitan dengan faktor-faktor eksternal budaya, sehingga transformasi kebudayaan menghendaki perubahan kebudayaan. Transmisi budaya menyangkut faktor-faktor internal budaya, sehingga tidak menghendaki adanya perubahan budaya.

Transformasi budaya menyangkut faktor eksternal, karna adanya dua kelompok yang bertemu(pihak A atau asing) dan (pihak B penerima) akan terjadinya pertemuan dua unsur budaya antara budaya asing dengan masyarakat penerima , proses ini menyebabkan adanya komunikasi dari luar atau masyarakat lain. Proses ini dapat dibedakan dengan jenis-jenis transformasi dibawah ini, antara lain;

  1. Difusi kebudayaan, adalah proses penyebaran unsure budaya dari suatu tempat ketempat lain. Misalnya penyebaran unsure budaya dari tempat ketempat lain, karena adanya gerak special(antaruang). Nmisalnya dari daerah A dating unsure budaya kedaerah B atau sebaliknya dengan membawa unsur budaya ketempat bersangkutan menyebabkan adanya proses transformasi.

Dewasa ini proses transformasi dilakukan dengan kemajuan teknologi komunikasi banyak dilakukan melalui radio, telepon, televisi atau satelit. Proses difusi tidak selamanya membawa perubahan, misalnya budaya yang lemah datang kemasyarakat yang lebih kuat pengaruhnya, kemungkinan sulit mempengaruhi penerima perubahan.

b.   Asimilasi. Kebudayaan, bila terjadi pertemuan antara dua unsur budaya yang berlainan(budaya masyarakat asing denagn masyarakat penerima) terjadi perubahan sifat-sifat khas dari unsur-unsur yang saling bertemu kemudian memunculkan bentuk baru yang bersifat kombinasi. Jadi unsure budaya penerima mengalami perubahan. Dosisni menunujukan adanya proses menggambarkan transformasi ini terjadi.

c.   Proses akulturasi kebudayaan. Pertemuan antara dua unsur budaya yang berlainan menyebabkan terjadinya akulturasi. Akulturasi terjadi apabila dua kebudayaan yang berasal dari dua kelompok masyarakat yang berbeda lambat laun unsur budaya yang berasal dari masyarakat lain dapat diterima dan di olah tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya. Dalam proses akulturasi cirri khas kebudayaan asli tidak hilang kemudian menerima unsur kebudayaan asing. Oleh karana itu, proses akulturasi adalah proses pengayaan budaya dengan menerima unsure budaya asing. Contoh: Dahuli sebelum islam masuk dimasyarakat jawa dalam selamatanya menggunakan do’a bahasa jawa, setelah masuk islam tetap melakukan selamatan tetapi do’anya sudah menggunakan bahasa arab.

3. Inovasi kebudayaan

Faktor lain penyebab terjadinya perubahan kebudayaan adalah inovasi yaitu suatu pembaharuan sehingga inovasi sebagai pembaharuan kebudayaan. Koentjaraningrat (1979) mengemukakan bahwa inovasi terjadi didahului oleh penemuan. Ada yang disebut Discovery atau invention. Discovery adalh hasil yang diperoleh secara kebetulan. Discovery ada faktor yang penting sebagai fenomena yang belum dikenal sebalumnya, misalnya batu hitamyang terbakar merupakan pengetahuan yang digunakan tanpa dilakukan secara rasional. Discovery setiap penambahan pengetahuan sedangkan invention penggunaan beru dari pada pengetahuan dilakukan secara teknik karena dianggap penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2010 in Uncategorized

 

One response to “makalah ISBD

  1. sri_yunita

    Desember 13, 2011 at 11:29 am

    ini tugas makalah saya….
    tapi formatnya beda…
    yang mau d cari seperti latar belakang, rumusan masalah dsb tdak ada ya???

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: